Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Hey You Do Not Copy Paste My Blog!!! appreciate my work as a blogger

Wednesday, 19 March 2014

Setiap Helai Nafas

Entah bagaimana aku bisa mengungkapkan perasaanku
Sejuta tanda tanya terus menghantuiku
Darimanakah engkau datang secara tiba-tiba
Tak tahu aku bingung harus berkata apa
Setiap detik aku merasa seperti berhenti ditengah jalan
Aku tak tahu darimana ini bermula
Apakah ada rasa jatuh cinta lagi yang kuinginkan
Lalu aku kemudian diam sejenak mencari celah
Pesan-pesan yang tersembunyi didalam kalbu ini
Setiap helai nafas ini seperti jantung yang terus berdetak
Aku bingung haruskah ku jatuh cinta padamu
Aku takut membuatmu kecewa karenaku
Aku takut dimatamu aku bukanlah yang sempurna
Aku takut kau meninggalkanku begitu saja
Tanpa menghiraukan perasaan hati ini
Bisakah aku bertanya pada bintang?
Oh tidak..
Apa yang harus kulakukan agar hati ini menyatu
Lakukanlah sesuatu untukku walau itu sederhana
Namun akan selalu terkenang

Jakarta 19 Maret 2014

Friday, 14 March 2014

Mencari Kebahagiaan

Hidup seolah bagai roda yang terus berputar. Mengelilingi waktu yang telah dilewati. Betapa dashyatnya setiap kehidupan yang dipenuhi dengan masalah-masalah yang mudah ataupun sulit. Terkadang membuat diriku terbebani dengan setiap problematika yang berbeda.

Diriku merasa terkurung dalam kebebesanku sendiri, mencari sesuatu yang tak bisa aku raih. Berusaha terus untuk menggapainya. Namun, ada orang yang tidak menyukai keberadaanku disini mencoba untuk membahagiakan dengan caraku sendiri.

Aku merasa seperti teraniaya dan tidak memiliki kesempatan untuk keluar mencari apa yang ingin kutemukan. Bersama segerombolan wajah-wajah asing yang tak ku kenal. Berkelana mencari setitik kebahagiaanku agar aku tak jemu.

Aku sering merasa bimbang ketika ada kesempatan yang ingin kuperoleh tetapi aku sulit mengejar karena ketiadaan dukungan. Aku merasa aku hanyalah sebagai sampah yang tak berguna, seolah kebahagiaan itu mencercaku, diselimuti oleh berbagai macam hinaan, cacian, dan makian. Untuk merenggut agar aku tak bahagia.

Aku harus bagaimana lagi untuk menghempaskan seluruh ragaku agar pulih. Tak tahu lagi aku harus berharap yang tak pernah pasti, dan itu tidak akan pernah kembali. Aku mungkin hanyalah debu ataulah angin yang lewat yang mudah dikoyak-koyakan.

Tahukah, aku memiliki hati yang berjiwa murni, dan penyayang. Tetapi aku bahkan pernah gagal dalam hal cinta. Dan itu semakin membuatku terpuruk. Hingga akhirnya aku lari dari kenyataan itu, lalu mencoba untuk berbahagia walau hatiku menjerit, menangis. Aku berusaha untuk tersenyum tetapi hatiku tak mampu bernafas tatkala mereka bertanya bagaimana keadaanku saat ini.

Tuhan sudah mengatur segalanya yang telah disusunnya dengan indah. Sampai kapankah aku bisa bahagia dengan keadaanku yang terpuruk. Sedangkan diluar sana jauh dari kehidupanku mereka memiliki kebahagiaan sendiri.

Hidup sebagai broken home, membuatku semakin jauh dari kata kenangan. Semua kisah yang kutulis hanyalah tinta yang terbuang sia-sia. Perlahan-lahan aku ingin melanjutkan kisahku mungkin tidak akan selamanya, sampai ku lanjut usia. Betapa hebatnya Tuhan menguras kesabaranku, dan kasih sayangnya membuatku semakin menjadi dekat dihadapanNya. Hingga suatu hari nanti Tuhan pasti akan menemukan jodohku dimana Dia bisa membahagianku dengan caranya membimbingku melewati hidup.

Walau diriku sulit mendapatkan kebahagiaan. Tetapi setidaknya aku berusaha untuk tertawa seolah semuanya tidak terjadi apa-apa, aku berusaha untuk bahagia dan tersenyum dengan keadaanku sendiri. Sehingga orang lain tidak tahu dan tidak menyadari betapa tegar dan tangguhnya diriku melawan kesepianku.

Tuhan tau aku menangis karena aku merasa dirundung kesepian dimana kegelapan terus menghantuiku. Namun aku berusaha untuk selalu berlindung padaNya. Bukan hanya air mata ini yang terus keluar, ada dimana hati mulai mengikis terluka perlahan-lahan karena amarah dan jiwa yang emosial ini menjadi kemarahan dihadapanNya. Tuhan tau aku marah padaNya, tetapi Tuhan berusaha menenangkanku lewat jawaban doa. Sungguh, aku tak tahu kapankah jawaban dari Tuhanku itu muncul dalam doaku. Hanya aku mampu berpasrah diri kepadaNya.

Dimanakah letak kebahagiaan yang ingin ku impikan itu. Dimanakah aku harus mengejar kebahagiaanku. Aku ingin menemukan sekarang ataupun esok dan hingga seterusnya sampai aku menutup mataku.

Dear diary.
Jakarta, 14 Maret 2014