Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Hey You Do Not Copy Paste My Blog!!! appreciate my work as a blogger

Sunday, 29 December 2013

Tangisan Mendengar

Diaryku sayang, aku ingin curhat entahlah aku bingung harus berbuat apa? Dan aku juga tak tahu harus bagaimana agar aku bisa bertemu dengan Ayah??
Diaryku ingin kutuangkan sedikit puisi untuknya agar dia tahu apa yang aku rindukan…
Ayah, Mengapa kau tinggalkan aku sendiri?
Kemana engkau pergi?
Ingin aku berlari mengejarmu,
Tapi entahlah aku tak tahu harus kemana aku berlari…
(sembari terisak-isak menulis diatas coretan kertas diary kesayangannya).
Diaryku aku tidur dulu yah sudah malam, besok lanjut lagi yah, aku hapus air mataku agar bisa bertemu dengan Ayahku ke alam mimpi, bye diaryku emuuaacccchhh…
Love,
Adinda

Pagi hari
“dinda, ayo cepat sudah siang” Ujar Mama sambil teriak-teriak di depan pintu kamar dinda yang tidak dikunci.
“apa? Aku tidak dengar mama kurang keras”
“aduh dinda, mama sudah teriak-teriak di depan kamar kamu, kamu ini sudah pakai Alat bantu dengar kamu belum sih?” sambil berjalan menuju meja rias dinda yang sedang berdandan.
“Sudah ma, tapi sepertinya alat Dinda perlu diganti dengan yang baru deh ini kan sudah lama ga diganti semenjak Ayah ninggalin kita berdua ma”
“Dinda sayang, nanti kalau usaha mama sukses, mama bantu cari caranya ya supaya kamu bisa mendengar, sabar ya sayang” Ujar mama sambil tersenyum di depan Anaknya walaupun hatinya perih melihat kesedihan Anaknya.
“iya mama, Dinda akan berusaha keras agar bisa mencari uang sendiri walaupun dinda ga tau sampai kapan harus begini terus”. Kata Dinda
(Dalam hati sang mama) “Malaikat kecilku kamu sudah semakin besar, kamu pasti bisa mengerti apa yang terjadi pada mama dan papamu, tegarlah malaikat kecilku suatu saat nanti engkau pasti bisa bertemu dengan papamu dan kamu pasti bisa mendengar”.
“Ma dinda berangkat dulu yah doain Dinda bisa diterima kerja diperusahaan Restoran Santapan Nusantara”.
“Amin, sayang mudah-mudahan kamu lolos, ayo kita keluar kamar supaya tidak terlambat sampai disana yah”.
“dah mama dinda berangkat” Sambil menyalakan motornya.
“Dinda, tunggu ada yang tertinggal” sambil teriak-teriak di depan rumah.
Aora yang masih kecil dan sudah masuk TK ini berpapasan dengan kak Dinda bersama Ibunya.
“Hei kak Dinda, pagiiiiiiiiiiii”.
“Pagi adek Aora”
“Kakak mau kemana? Tante itu panggil kakak tuh”. Sambil menunjuk-nunjuk kearah yang dimaksud dengan bahasa isyarat.
“Astagaaaaaaaaaaaaaaaa….surat lamaran sampai ketinggalan” Sambil menggetok-getok helmnya sendiri.
“Terima kasaih ya dek”. (dengan bahasa isyarat)
“sama-sama kak”. (dengan bahasa isyarat)
“aduh kak Dinda cantik ya ma, aku sudah besar mau seperti kak Dinda jadi Koki pasti masakannya enak”. Mamanya cuma bisa tersenyum melihat anaknya yang pandai ini.
Bruummmmmm Dinda kemudian mebalikkan motornya mejuju rumahnya, suara knalpot Dinda membuat Aora kaget.
“maaf ma Dinda lupa, terima kasih ma sudah bersabar”
“iya sudah tidak apa-apa, lain kali taruh di dalam tas yang besar ya, hati-hati di jalan”.
“iya mama”.

Diperjalanan menuju Restoran Santapan Nusantara waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi. Tiba-tiba Adinda dicegat polisi patroli yang sedang melakukan razia terhadap pengendara sepeda motor.
“Aduh, gimana nih, aduh bingung, kok pagi-pagi gini ada razia bisa telat nih interviewnya”. Gumamnya dalam hati.
“Stop mbak stop kiri-kiri”.
“ Maaf mbak bisa tunjukkan Stnk dan SIM nya?”
“Sebentar”
(sambil membuka helmnya).
“Maaf pak anda butuh apa?”. Sambil pura-pura tidak terjadi apa-apa.
(polisi ini pun dua kali bicara dan lebih kasar terhadap Dinda).
“ Maaf mbak bisa tunjukkan Stnk dan SIM nya?”
“Pak saya mohon bicara pelan-pelan saya ini seorang tuna rungu”
“Apa? Bohong Anda”.
(dinda bengong dan ketakutan, akhirnya ada polisi lain yang menolong).
“Pak, jangan kasar sama perempuan, tidak tahu ya anda itu punya istri juga?”
“Ehm, maaf pak, saya jadi bingung dia ini saya suruh mengeluarkan Stnk dan SIM nya masih ga paham”.
“Biar saya saja, kamu urus yang lain oke?”
“Baiklah”
“Mbak maafkan teman saya yang tadi kasar ke mbak”
“Apa mas?” (sambil mendekatkan tangannya ke telinga supaya lebih jelas menerka suara polisi itu).
(huft) “mbak maafkan teman saya yang tadi kasar ke mbak”
“Oh, iya iya”
“Kok iya aja mbak, mbak tidak bisa mendengar ya?”
“Apa mas? Suara disini berisik apa bisa mas tulis aja?” (sambil menggunakan bahasa isyarat alami yang polisi bisa paham).
“Ok baik, sebentar saya tulis dulu”
“Bisa tunjukkan Stnk dan SIM nya mbak?”
“Oh, iya bisa-bisa pak sebentar”
(setelah berbicara dengan polisi ini, Dinda pun bebas dari razia polisi dan diperbolehkan melanjtkan perjalanan).
“Pak kok bebasin dia? Dia kan ga punya SIM” kata polisi yang tadi mencegat Dinda.
“Ada pak, dia katanya besok mau ke kantor polisi untuk memperpanjang SIM nya tapi dia ada surat jalannya baru selesai besok suratnya tertulis nama Bapak Sumantri yang memproses SIM nya. Bukankah itu nama Bapakmu?
“Oh, saya jadi malu pak. Saya ingin minta maaf ke dia kalau saya kasar, mudah-mudahan dia mau memaafkan saya dan bisa bertemu langsung dengannya lagi”.
(Dan polisi yang membantu Dinda ini hanya bisa tersenyum kecut melihat tingkah temannya ini).

Setiba di lokasi Restoran Santapan Nusantara.
(Ditempat parkir) “Aduh mudah-mudahan ga telat, walaupun sempet dirazia untung bawa surat-surat lengkap, terima kasih mama Dinda ga akan lupa lagi”. Gumamnya dalam hati.
Menuju koridor masuk ke arah interview. Dinda bertemu dengan satpam dan bagian informasi.
“Maaf mbak saya tuna rungu mau interview , ruangnya disebelah mana?” ujar dinda
“Ada mbak naik lift di lantai tiga ya, posisinya ada di dekat lift banyak yang sedang interview juga” kata mbak resepsonis.
“Bisa diulang lagi dan bicara sedikit pelan?”.
“Iya saya mengerti maksud anda, silahkan naik lift ke lantai tiga ya, posisinya ada di dekat lift banyak yang sedang interview juga”.
“Terima kasih mbak”.
“Sama-sama mbak”.

Diruang tunggu
(Pengeras Suara) Panggilan kepada saudara Adinda Farah dipersilahkan untuk masuk.
“mbak Adinda Farah itu kamu kan? Masuk sana mbak dipanggil tuh”. Ujar mbak yang disamping kiri dan kanan Adinda ini.
“Oh, terima kasih mbak”
“Mbak ini kenapa ya? Cocoknya jadi tukang pijet deh kayak tuna netra”, “hihihi…”
Ujar mbak yang sedari tadi asyik ngobrol ngalor ngidul disebelah Dinda.
(Dinda cuma bisa bersabar melihat kelakuan perempuan yang mengejeknya ini).
Saat di interview
“Anda Adinda Farah bukan?” Kata Manager Restoran Santapan Nusantara.
“iya Pak”.
“Riwayat hidup kamu cukup menarik dibuat dalam format CD dan juga video, sangat kreatif. Berbeda dengan yang sebelumnya. Saya sudah baca semuanya. Dan bisa mengerti kondisi Anda, jadi saya tulis saja ya biar kamu paham”
“Iya Pak” (dinda bengong).
“Ini silahkan kamu baca dan jawab ya pertanyaan saya”.
1 jam di interview yang menegangkan ini bisa Dinda jawab satu persatu dan gaya bicaranya pun lancar tanpa hambatan.
“Terima kasih nanti saya sms kamu apakah kamu berhak bekerja disini”. (sambil berbicara pelan-pelan kearah dinda)
“Ok pak, baiklah sama-sama”.
“Alhamdulillah” (sambil berjalan menuju kearah lift untuk turun dengan santai dan penuh harap).

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang Dinda harus bisa cepat-cepat pulang kerumah untuk mengajar bahasa isyarat. Tiba-tiba dinda diserunduk mobil dari belakang.
Bruaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk….. dan Dinda pun terjatuh bersama sepeda motornya. Sedangkan mobil yang menabrak Dinda kabur.
“Eh lihat ada mobil kabur ayo cepat catat nomornya kita tolong perempuan itu”.
“Gimana kita mau catat pak pulpen sama kertas aja kita ga punya tapi saya sudah ingat nomot platnya” Ujar Bapak-bapak yang sedang memperbaiki saluran air di jalan.

Orang-orang dijalan pun mulai berkerumun dan ikut membantu menolong.
“Aduh sakit” kata dinda.
“Mbak tidak apa-apa?”
“Cepat ayo-ayo bawa ke pinggir biar tidak terjadi kemacetan”
“Aduh ABD saya, ABD saya manaaaaaa”
“ABD apa mbak”
“Alaaaatttt bantu…….. (sambil memperagakan tangannya ke telinga).
“Oh, alat pendengaran mbak? Nanti kita bantu cari ya, sabar mbak”
“Tenangkan diri dulu mbak”
“Iya mbak , mbak sekarang aman kita bantu cari dulu ya.
“Saya tidak bisa mendengar telinga saya berdarah” (sambil terisak-isak menahan rasa sakit di telinga, tangan dan kakinya).
“Harus cepat-cepat dibawa ke rumah sakit. Mbak motornya saya bawa ke kantor polisi terdekat ya.”
“Tidakkkkk saya mauuuuu ABD sayaaaaaaaaaaa”. (sambil teriak-teriak mengerang kesakitan dan tiba-tiba Dinda pingsan).
“Alhamdulillah polisi dan ambulans datang tepat pada waktunya”.  Teriak Bapak penolong.
“Ayo tolong perempuan ini, motor biar polisi yang urus”.

Tiba dirumah sakit dengan ambulans dan dikawal beberapa polisi yang tadi pagi melakukan razia. Dua polisi ini sibuk berdialog untuk mencari keluarga sang korban tabrak lari yang dapat dihubungi.
“ini bukankah mbak yang tadi pagi saya cegat?”
“iyalah mas emang siapa lagi mas?”
“harus cari orang yang bisa bantu menelepon keluarganya”
“Iya pak, coba cari di tasnya siapa tau ada telepon genggam”
“Ah, mana berani saya”
“Iya dicoba saja lagipula darurat”
“Ah ini dia”
“Tidak ada satupun yang bisa saya dapatkan di hpnya”
“Masa, sini coba saya lihat?”
“Yah, ternyata tidak ada, ah saya ingin surat”
“Surat?”
“Iya, surat SIM, disana ada nomor teleponnya”
“Coba cari, pasti saya ingat ada”
“Nah ini dia, ayo kita telepon”
Dialog polisi dengan ibunda Adinda melalui telepon genggam Adinda.
“Loh tumben Dinda telepon? Ada apa ya”. Ujar mama Adinda.
“Hallo, selamat siang bisa berbicara sebentar dengan nomor ibunda Adinda Farah?”
“iya saya sendiri, ada yang bisa dibantu pak?”
“Ada bu, Anak ibu sekarang ada dirumah sakit”
“Apa?”
“Jangan kaget bu, saya serius apa ibu bisa segera ke rumah sakit secepatnya? Anak Ibu sekarang berada di Rumah Sakit Harapan kasih Bunda, di ruang Unit Gawat Darurat”.
“Baik saya akan segera kesana. Terima kasih informasinya”.
“sama-sama bu hati-hati dijalan bu”.
“Ah, malaikat kecilku apa yang terjadi padamu membuat ibumu khawatir, jangan membuat ibu menangis sayang. Kamu harus kuat malaikat kecilku apa ibu yang harus kuat? Sudahlah ibu akan menengokmu sabar sayang” Gumamnya dalam hati sang mama.

Setiba di Rumah Sakit Harapan Kasih Bunda. Sang mama Adinda dan Om Tante serta keluarga besar pun mulai was-was dan sedih. Sambil berlari-lari menuju ruang kUnit Gawat Darurat.
“Ada apa dengan anak saya pak?”. Ujarnya dihadapan polisi.
“Anak Ibu kena tabrak lari mobil orang, yang menabrak bukan anak ibu tapi mobilnya. Tim kami sedang mencari nomor plat mobil yang dimaksud bapak-bapak yang memperbaiki saluran air di tempat kejadian, paling lambat 24 jam tim kami harus segera mendapatkan nama pemilik mobil, ibu silahkan bersabar”.
“Oh, syukurlah, saya serahkan semuanya ke Bapak terima kasih Bapak telah menolong anak saya.”
“Iya sama-sama bu, itulah tugas kami sebagai seorang polisi melayani masyarakat, ini tas dan surat-surat lainnya”.
“Terima kasih pak”

Dan dokter bersama suster keluar menuju ruang Unit Gawat Darurat
“Dok bagaimana perkembangan anak saya?”
“Saya harap ibu bisa lebih mengihklaskan, dan bersabar, anak ibu tidak apa-apa hanya terjadi pendarahan serius pada telinganya”. Ujar dokter yang menangani Adinda.
“Apa yang dokter bilang? Saya tidak mengerti” (sambil terisak-isak).
“Silahkan Ibu lihat sendiri, saya tidak berani menjelaskan secara langsung, saya tidak ingin membuat luka hati anda”
“Terima kasih dokter telah menangani keponakan saya”.
“mari masuk”
“Adindaaaaaaaaaaaaa…..Kamu kenapa sayang? Kenapa sampai seperti ini”. Mama Adinda menangis di depan Anaknya.
“Sudah sabar kak, Dinda baik-baik saja, jangan sedih” Ujar tante Adinda yang berusaha menenangkan.
Tiba-tiba Dinda terbangun, dan mendapatkan dirinya tidak berdaya dibangsal Rumah Sakit.
“Mama maafkan Dinda ABD Dinda terjatuh dan Dinda gak tau dimana”.
“Iya tidak apa-apa sayang nanti kita beli baru lagi ya, mama gak marah sama kamu”
“dinda tidak bisa dengar mama” (sambil menahan tangis yang tak bisa dibendung lagi).
“Iya, tenang saja nanti om sama tante yang bantu tambahain dana ya biar kamu bisa mendengar lagi” ujar om Andida sambil tersenyum dan menguatkan hati keponakannya itu.
“Sekarang kamu istirahat ya, besok om sama tante, juga mamamu yang akan bergantian menemani kamu sampai sembuh” Kata Tante Adinda.

Seminggu kemudian. Polisi sedang mengejar pelaku sampai ke Bandung bahwa pelaku yang telah dicari sudah ditemukan di Hotel bertaraf bintang lima, dan sedang melakukan pesta narkoba. Setelah diketahui ciri-ciri orang yang menabrak Adinda. Sang Mama lalu menuju kantor polisi yang telah ditunjuk oleh petugas kepolisian yang menjaga Adinda di Rumah Sakit Harapan Kasih Bunda sampai sembuh. Setibanya di kantor polisi Mama Adinda teringat wajah yang sangat mirip dengan mantan suaminya, tidak salah lagi kalau itu adalah mantan suaminya yang tidak lain Ayah kandung Adinda.
“Ah, kamu????” Ujar Mama Adinda.
“Siapa sih pak perempuan ini saya sama sekali tidak kenal, sumpah pak” Ujar Ayah Adinda.
“Dasar bodoh, kamu tidak ingat mantan istrimu apalagi Anak-anakmu, pantas saja kamu tidak berubah sampai sekarang”
“Maaf apa mbak kenal dengan laki-laki itu?” kata Petugas polisi yang menangani tersangka.
“Iya, saya kenal pak dia mantan suami saya”
“Kalau begitu apa yang menyebabkan laki-laki itu menabrak Anak ibu?”
“Saya tidak tahu pak, coba Tanya ke dia saja” (sambil menunjuk ke mantan suaminya).
“Saya tidak sengaja menabrak, jadi saya tidak tahu kalau sampai separah itu”
“Kenapa? Mabuk narkoba hah?” Ujar Mama Adinda.
“Sabar bu sabar tenangkan diri ibu, ini masih beberapa” kata petugas lain yang ikut mendampingi proses perkara.
“Tidak, saya bilang saya tidak mabuk”. Ujar Ayah.
“Bohong” Kata Mama.
“Masa??” Ujar Dinda dari kejauhan.
Tiba-tiba Adinda masuk tanpa permisi dengan kursi roda dan alat infus ditangannya bersama dokter dan suster yang mendampinginya.
“Mama, apa benar yang menabrak itu Ayahku? Ayah kenapa jahat pada Dinda, sampai Dinda seperti ini?” (Sang mama hanya bisa diam dan terisak-isak sambil menyeka-nyeka air matanya). Kalau memang benar Mama dia adalah Ayahku penjarakan saja hatinya tapi jangan sampai penjarakan kasih sayangku”.
“Nak, mmmm, benar nak Ayah sadar sekarang bahwa dia adalah Mamamu dan Saya adalah Ayahmu, Ayah minta maaf kepada semuanya khususnya mamamu dan kamu juga keluarga besar yang lain, Ayah telah lama meninggalkan kamu. Maafkan Ayah, Ayah salah”.
“Iya maafkan Ayahmu ya” Suasana yang tadinya hening pun kembali bergema.
“Mama, Ayah Alhamdulillah Dinda bisa dengar berkat bantuan dokter yang memberikan alat bantu dengar. Dunia Dinda tidak sunyi lagi, Dinda mafkan mama dan Ayah.
Dan Akhirnya keluarga kecil yang terpisah ini pun saling memafkan.

-Tamat-

Jakarta, 02 Oktober 2012

Dalam Keterbatasanku

Aku takut ketika orang mulai
menatapku dan berpikir seolah aku
hanyalah sampah yang tak berguna
Aku takut ketika orang mulai
menjadikanku bahan celaan
Aku takut ketika orang mulai
mengujiku dengan raut muka yang
membenciku
Namun sudah aku sadari ketika
semua orang mulai bertanya dan
mendekatiku
aku mencba untuk kuat dan tak
berhenti melangkah
mencari kebenaran yang belum
terungkap
mencari setiap kepingan kata yang
hampir tersingkirkan
Kusimpan rasa sakit ini menjadi
kekuatan doaku
kurapatkan setiap kepingan ribu kata
menjadi seuntai kalimat yang indah
meski belum begitu sempurna
menjadi sebuah cerita
dalam keterbatasanku teriring banyak
doa dari orang-orang terdekatku
aku semakin giat untuk bergerilya
mencari kebenaran untuk mereka
orang-orang yang sebelumnya
pernah membenciku ingin tahu
tentangku

Jakarta, 18 Desember 2013

Jangan Katakan Selamat Tinggal

Mengapa harus ada perpisahan saat semua murni menjadi masa lalu. Ah entahlah ini memang sebuah pengkhianatan kecil seakan itu ditujukkan kepadaku. Semakin aku tidak memperdulikannya semakin aku melupakannya dan aku pun perlahan-lahan semakin kembali teringat. Mungkin aku ingat dimana letak kesalahanku dulu tapi itu sudah dipastikan akan tercatat bukan hanya dalam memory otak tetapi juga dialam sana. Alam yang jauh lebih indah...

Semakin aku merindukan semakin aku ingin mencarinya sampai akhirnya kudapati hanya sebuah karangan cerita biasa sama seperti yang dulu. Setidaknya aku menemukan kisahku yang memang bukanlah kisah sejati namun berkesan. Ada 365 hari dan 12 bulan dalam setahun, entahlah apa saja yang sudah kulewati pada masa itu.

Tapi aku masih menyimpan impian kecilku yang orang lain belum tentu tahu tentang itu. Aku hanya bisa menangisi setiap perjalananku penuh dengan peristiwa-peristiwa yang patut menjadikanku pelajaran yang amat berarti. Tidak ada salahnya berbalik pada masa lalu agar itu menjadi penyesalan. Naif memang tapi sungguh berarti bahwa perjalananku tidak akan berhenti hanya disini saja.

Yang kulakukan bukan hanya menyimpan secarik cerita dalam diary manis ini agar semua orang tahu bahwa aku baik-baik saja dan masih setia dengan rasa yang berbeda. Dan yang kulakukan adalah mengembalikkan keceriaan itu menjadi kenangan yang membahagiakan. Bukan otakku yang error ataulah nasibku yang sial tapi kekuatan inilah yang menjadikan aku setegar ini kujalani hidupku dengan intrik-intrik bak superhero melawan penjahat yah memang benar ada kejahatan dibalik selimut yang hangat. Tak semua orang menyadarinya lucu memang akalan-akalan dan aku mengetahuinya dengan penuh kehati-hatian.

Memang pahit jika dirasakan manis jika dikenang. Tak ada kisah sejati untukku yang ada hanyalah angin yang lewat dalam buaian rindu. Setiap goresan ini adalah kisah sejati dan ini adalah kisahku, agar mereka tahu ini adalah ceritaku dan dibuat dengan balutan nada-nada yang syahdu dan sendu seakan membawamu pergi dalam tidur dibalut dengan mimpi yang tak nyata ketika terbangun itu adalah nyata.

Jangan katakan selamat tingga tahun 2013
Mengapa?
Karena tahun terus berganti
Dan kita pun akan semakin menua
Kisah baru sedang menanti
Biarkan itu berjalan
Seiring waktu, hari, dan bulan
Karena kita tak tahu
Ada apa denga masa lalu kita
Setidaknya kita masih bisa bernafas
Menghirup dunia yang kejam
Sadarlah ajal akan menanti
Kita tidak tahu kapan
Ubahlah hidup yang bermanfaat
Yang akan mampu dikenang orang
Dan membawa amal yang bermanfaat

Tahun 2014 akan semakin dekat
berdoalah pada Tuhan
Karena dengan-Nya
Kita bisa melewati ujian-Nya
Menempuh hidup yang baru
Dengan semangat yang membara
Bukan api tetapi hasrat dan semangat
Tidak ada kegundahan dan rasa takut
Menggapai mimpi-mimpi yang ada di depan mata

Tuhan itu tidak tidur, aku hanya takut tak mampu membahagikan diriku dengan srmua yang telah kulewati dan aku masih berdosa.
Semua orang pasti sama, masih banyak dosa yang diperbuat, suci hanya ketika kita menghadap-Nya. Dan gagal adalah hal biasa namun perlahan mencoba agar berhasil. Doa adalah obat mujarab untukku ketika kumenangisi waktu yang telah kulewati dan waktu yang tersisa kemudian itu kumanfaatkan selama aku masih diberi nafas. Kehidupan tidak ada yang abadi ingatlah hanya kisah sejati dan itu dalah aku, kamu, dan kita ketika terhanyut saat membaca semua cerita ini. Wajarlah bila engkau ingin menangis dan ini hanyalah cerita bukan kebenaran biarkan hati yang menilai mulut yang berkata.

Salam,
Dear Diary.

Dirimu

Telah banyak kulewati masa sedemikian rupa
Meski hati tercampur adukkan sesaat
Gagal sudah pasti ada

Kerinduanku akan semua waktu yang dilewati
Hari pun sudah berhasil kulalui dengan tidak mudah
Kehampaan ini semakin menguatkan batinku

Tak tahu harus berlari kemana lagi
Saat pikiran ini kosong dan tak tentu arah
keheningan ini aku sendiri tidak ada siapapun

Aku rindu saat dimana orang-orang memberiku kehangatannya
Merasakan keakraban yang telah lama hilang
Di dalam kegilaan yang membuatku tersontak gembira

Peluh, kesal, dan kecewa telah kuganti masanya
Hanya tinggal asa yang menjadi aku berduka
Akan kemana kini aku kembali menerjang waktu

Kini sia-sia hanya tinggallah cerita
Dunia ini memang benar seperti sandiwara
Kehidupan memang kecil dan sempit

Hanya dengan ini aku sanggup berkata
Dimana lagi aku akan mengejar
Kepastian yang kutunggu

Dalam bayang-bayang semu
Tak ada riasan yang sempurna
Hanya lukisan yang terbengkalai

Dimana lagi nyawa ini kutaruh
Seisi jiwa ini seakan kian memanas
Berharap kamu yang indah

Memberikanku dingin dan hangatnya dirimu
Namun tak tahu ini sampai kapan
Kudapatkan dirimu yang kusuka dalam nyata

Jakarta, 29 Desember 2013

Wednesday, 4 December 2013

Hari Disabilitas Internasional

Bahasa Isyarat kembali mengudara di Stasiun TVRI

Setelah sekian lama "mati suri" hampir tidak ada bantuan penerjemah bagi kaum disabilitas Tunarungu. Stasiun TVRI seakan ingin membangunkan kembali bahasa isyarat ke dalam berita nasionalnya. Hampir selama bertahun-tahun mengudara mungkin sekitar tahun 1992 masih bisa merasakan dan menikmati kelihaian sang penerjemah bagi disabilitas Tunarungu mengartikan apa yang disiarkan dalam pembicaraan sang pembaca berita.

Bahasa Isyarat Indonesia atau yang lebih disingkat dengan BISINDO merupakan salah satu bahasa alami yang digunakan kamu tunarungu. Setidaknya data kaum disabilitas Tunarungu hampir paling banyak di Indonesia. Saat ini mereka sangat membutuhkan informasi yang mudah dan jelas dimengerti oleh mereka yang kurang pendengarannya dan sama sekali tidak bisa mendengar dengan bantuan alat bantu dengar dan bahasa isyarat itulah mereka menjalani kehidupan yang saat ini sulit bagi mereka untuk mampu berkembang dimasyarakat yang inklusif. Padahal Indonesia merupakan negara budaya dengan kearifan yang lokal dan menjaga nilai-nilai ras, suku, dan budaya disetiap masing-masing daerah.

Kearifan budaya salah satu ciri khas Indonesia yang paling disukai oleh negara asing. Jagalah nilai budaya kita agar tidak luntur dimakan oleh kebiadaban negara penjajahan yang serba "modern" sehingga kita tertinggal dari kemajuan. Inilah kemunduruan bangsa Indonesia yang tanpa sengaja dihilangkan bahkan dilupakan. Seperti halnya peribahasa pagar makan tanaman. Semakin dia berduri dan merusak maka semakin lunturlah harga dirinya.

Sebelum membahas judul diatas mari kita belajar dengan seksama mengapa tiba-tiba muncul penerjemah isyarat di TVRI hari ini? (4/12/2013) jam 19.00 Wib.

Baru-baru ini tepatnya kemarin (3/12/2013) Hari Disabilitas Internasional semua penyandang disabilitas diseluruh Indonesia merayakannya setahun sekali bisa dibayangkan berapa jutaan disabilitas yang tumplek disana nyaris tidak terhitung dengan masyarakat yang bukan disabilitas. Di Jakarta kali ini berlokasi di Kementerian Sosial Jl. salemba Raya, Jakarta Pusat. Di Gedung Sasana Graha Kementerian sosial mengusung tema Nasional "Hapus Hambatan, Wujudkan Masyarakat Inklusif dan mengusung tema Internasional yaitu "Break Barrier, Open Doors : For an Inclusive Society for all". Sebagaimana tercantum dalam resolusi PBB No. 48/96 th. 1992 mengenai peraturan standart tentang kesamaan kesempatan bagi penyandang disabilitas, Dasawarsa II Penyandang Disabilitas Asia Pasifik th. 2003-2013 tentang tujuh program aksi Millenium Biwako Framewrok, Undang-undang No. 19 th. 2011 tentang Pengesahan Konveksi Hak-hak Penyandang Disabilitas, Undang-undang No. 11 th. 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, serta pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Penyandang Disabilitas.

Berdasarkan dari kegiatan yang saya ikuti kemarin semuanya bukan hanya memberi manfaat tetapi juga peluang terbukanya kesempatan seluas-luasnya bagi semua disabilitas. Tuntutan yang tidak mengharuskan rasa belas kasihan pada orang yang "cacat" bukan lagi menjadi prioritas utama tetapi keberadaan merekalah yang harus diakui oleh masyarakat dari berbagai elemen entah itu pemerintah maupun orang-orang yang bukan disabilitas. Tidak ada lagi kata "cacat" dalam kamus ataupun semua berita yang mengatakan "cacat" kepada seorang penyandang disabilitas. Kata "cacat" hanya ada ketika ada bagian-bagian yang rusak oleh ketidaksengajaan kita seperti kardusku sobek, kertasku cacat. Itulah mengapa orang harus tahu betul-betul apa itu disabilitas sebenarnya.

Tidak perlu menunggu pemerintah agar kita bergerak keatas dan tunjukkan bahwa keberadaan kita akan diakui jika kita berani memperjuangkannya dari bawah. Seyogyanya kita semua dimata Tuhan itu sama tetapi perbedaanlah yang menjadi kita benar-benar "berbeda". Dukungan dari orang-orang terdekat agar kita berani maju adalah salah satu kunci cara mengadvokasi masyarakat agar mereka mau menjadi bagian kita dan dukungan dari berbagai pihak adalah poin kedua untuk sukses dalam implementasi perjuangan hak-hak disabilitas.

Nota kesepahaman (MoU) Dirjen Rehabilitasi Sosial dengan TVRI


Ada yang unik sebelumnya yaitu pemecahan rekor Muri. Padahal di dalam daftar rangkaian acara tidak ada sama sekali inilah mungkin kejutan kecil yang sulit dipercaya. Sebelum acara puncak Hari Penyandang Disabilitas sambil menunggu menteri datang tunanetra menyanyikan sedikitnya beberapa lagu, selain itu juga dibuka stand dari masing-masing perwakilan disabilitas dari tanggal 2-3 Desember 2013. Yang unik disini adalah MC nya dimana salah satunya adalah teman saya dari perwakilan Young Voice Indonesia (angkatan muda dengan disabilitas) ini menerjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris namanya Sikdam, seorang tunanetra dan Yustitia yang merupakan salah satu mantan pembawa acara berita indosiar dia seorang tunadaksa tapi kemana-mana beliau suka bawa mobil matiknya.

Tari topeng dari sekolah PSBL Phalamarta ini membuat penonton terpukau mereka yang menari merupakan tunagrahita dan tunanetra. Tidak heran saya juga mengaggumi mereka yang merupakan anak yang sangat sulit sekali diam ternyata bisa berprestasi di musik. Nah setelah itu dibuka oleh tari saman yang dibawakan oleh tunarungu. Hebat ya walaupun sama sekali tidak bisa mendengar mereka sangat hapal ketukan-ketukan maupun bunyi yang pas tidak ada kesalahan sedikitpun, saya memberikan aplause tepuk tangan keatas ala tunarungu benar-benar luar biasa. Dan kemudian hening, dilanjutkan pidato singkat oleh Bapak Gufron Sakaril selaku ketua umum PPDI dalam sambutannya yang saya dengar masalah Undang-undang No.4 th.1997 yang pusatnya semua masalah isu diaabilitas di Kementerian Sosial padahal penyandang disabilitas merupakan isu yang lintas sektor. Nah belum jelas apakah pemerintah ini mau berubah atau tidak hahaha....

Dilain pidato ada juga mantan ketua umum PPDI Bapak H. Siswandi memberikan sambutan dalam sambutannya beliaulah yang memprakarsai diterbitkannya Undang-undang No. 19 tahun 2011 tentang pengesahan Konveksi mengenai Hak-hak Penyandang disabilitas (Convention on The Right of Person With Disabilities) terakhir oleh Haryono Suryono yang menjelaskan data-data disabilitas saat ini. Wah jumlahnya semakin bertambah. Dan diakhiri dengan sambutan dari Menko Kesra Agung Laksono yang mengatakan bahwa di dalam Undang-undang No.4 th 1997 khususnya quota 1%  kesempatan kerja bagi penyandang diaabilitas baik di perusahaan dan terlwbih lagi di lembaga pemerintahan masih belum menggembirakan. Berkembangnya sektor jasa, perdagangan, dan informasi teknologi sesungguhnya telah membuka peluang bagi para penyandang diaabilitas untuk dapat memasuki lapangan pekerjaan yang tersedia. Juga terakhir oleh Bapak Salim Segaf dalam memberikan pidatonya yang cukup meyakinkan dan meraih tepuk tangan meriah dari tamu hadirin. Selain itu Bapak Jaya Suprana memberikan rekor Muri kepada Yayasan Daksa dan kemensos yang sudah berhasil memberikan respon positif dalam memberikan kaki palsu terbanyak. Padahal mah tunarungu juga banyak tuh hehehe

Ditutup dengan Nota kesepahaman oleh Dirjen Rehabilitas Sosial dengan PLT Direktur Utama TVRI dan Kementerian Sosial dengan Kemenakertras dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia. Dimana salah satunya adalah TVRI memberikan kesempatan penerjemah/ interpreter untuk membantu tunarungu mendapatkan informasi terbaru melalui tayangan berita. Salah satu contoh yang harus diikuti oleh stasiun-stasiun Televisi yang lain agar segera bergerak memberikan informasi bagi disabilitas tunarungu. Dimana bahasa yang digunakan adalah bahasa isyarat bukan bahasa KOMTAL atau komunikasi total yang tidak dipahami oleh tunarungu. Setidaknya TVRI sudah memberi quota 1% kepada penyandang Disabilitas tunarungu untuk mendapatkan akses informasi baru melalui berita. Tidak hanya berita saja tetapi juga acara-acara lainnya semoga bisa terpenuhi dengan baik. Saya percaya kedepannya Perusahaan dapat menjamin kesempatan seluas-luasnya bagi disabilitas untuk dapat bekerja dan berkarya sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Hari ini di stasiun berita TVRI jakarta yang menjadi penerjemah isyarat berita adalah teman saya juga namanya mas Widodo, beliau sangat aktif dimana-dimana dan juga mau mengajari saya bahasa isyarat yang tidak saya pahami sama sekali. Tidak jarang beliau juga mengeluh ke saya dengan kata "pegal" karena terus memberikan terjemahan isyarat ke teman-teman saya yang tunarungu. Tapi beliau jarang mengeluh "capek, ga enak body, dll" semangatnya patut diacungi jempol karena menjadi interpreter itu tantangan katanya. Benar deh saya juga pernah mencoba jadi interpreter waktu di Kediri beberapa hari yang lalu sebelum puncak acara diam-diam saya juga mengeluh "pegal" hihihi tapi saya sangat menikmatinya dan menghargai sebuah bahasa isyarat itu sendiri karena saya juga seorang tunarungu.

Penutupan acara puncaknya terakhir oleh PSRBW melati memainkan alat musik angklung dan Bunda Dewi Yull dimana salah satu anak laki-lakinya juga merupakan seorang tunarungu bernyanyi bersama dalam satu panggung. Dia juga sangat aktif memberikan dorongan dan semangat yang besar kepada teman-teman yang lain entah itu tunarungu atau non tunarungu, dia juga saya ajak berkegiatan seperti di Young Voice Indonesia (angkatan muda dengan disabilitas) awalnya dia tidak tertarik setelah saya rayu mau juga ikut hasilnya diapun berprestasi di Bangkok bulan lalu.

#QuoteaCha Suatu prestasi tidak bisa dilihat dengan keterbatasan fisiknya. Tetapi dari kepiawaian dan berlatih mengoreksi diri kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan agar menjadi lebih berprestasi lagi.

Foto : Dok.pribadi (atas : Suasana Acara di Gedung Sasana Graha Kemensos), Revita Alvi (bawah : Siaran berita pertama TVRI yang menggunakan Interpreter - Berita Malam pukul 19.00 Wib, 4 Desember 2013)